kAMU HANYA ADA SATU DI DUNIA, JADI JANGAN HILANG.

_Tubuh yang selalu kamu pangil sebagai estalase kegagalan, bagiku adalah museum dari semua hal yang pernah kamu upayakan._

Dear kamu....
Suatu hari nanti semua akan membaik dan kamu akan bersyukur karena tidak menyerah.
pun aku sudah tahu kamu tidak akan menyerah, karena tubuh yang selalu kamu panggil sebagai estalase kegagalan itu sebenarnya adalah museum dari semua hal yang pernah kamu upayakan. iya, kamu sudah banyak sekali mencoba, gagal, tapi akan tetap bertahan seperti yang sudah-sudah.

awalnya, aku mau minta maaf atas ketidak- adilan yang telah membuatmu tumbuh dalam kepercayaan diri rendah dan selalu dilimpahi rasa bersalah. tapi tak jadi, karena kamu pasti tidak akan suka melihatku minta maaf atas sesuatu yang bukan salahku.

aku juga begitu, aku tidak suka kamu yang selalu minta maaf karena terluka dan gagal untuk selalu baik-baik saja, aku tidak suka dirimu yang terus merasa bersalah karena bingung tentang menjalani hidup ketika satu dunia pun tak ada yang tahu tentang hidup yang paling tepat.

pada dasarnya semua orang yang hanya pura-pura mengerti apa yang sedang mereka jalani. Di mata orang lain kamu kelihatan bener, kok , tenang aja.

pun menurutku, kita bisa berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai menyalahkan semua pada pemerintah, toh, kalau belajar betapa besarnya dosa para pembesar, kesalahan-kesalahan konyolmu pasti lebih mudah diampuni. di tengah malam, dosamu paling-paling karena makan indomie, sedangkan mereka makan demokrasi.

tapi, dirimu... aku bisa mengerti jika penghiburanku tadi tak serta merta membuat retakmu rekat, jadi, aku akan tetap berdoa agar tuhan sembuhkan semua duka yang bahkan tidak bisa kamu ceritakan padaku,pada siapapun, atau bahkan pada dirimu sendiri. aku mau mengizinkan kamu untuk merdeka dari luka tanpa nama yang hingga kini masih terasa
meski kamu sudah lupa cara memandang dan membahasakannya,

Namun, jika pada akhirnya lukamu tidak kembali sembuh dengan utuh, maka kuharap cahaya dan kebaikan dunia dapat masuk pada hatimu lewat celah itu. Hingga kamu bisa menerima gurat-gurat kehilangan sebagai jalan untuk lebih banyak menemukan—termasuk sebagian dirimu sendiri yang sudah lama menunggu untuk ditemukan.

Toh, apa yang melewatkanmu tidak akan pernah menjadi takdirmu, dan apa yang ditakdirkan untukmu tidak akan pernah melewatkanmu. Itu kata Umar Bin Khattab, lho, orang hebat, bukan kataku. Masa kamu bandel dan tidak mau dengar. 

Oh iya, kalau kata nihilisme, dunia ini tak pernah benar-benar penting. Semua akan tiada pada waktunya. Kosong. Tapi karena itu, alipann sepenuhnya merdeka untuk memberi nilai dan makna apa pun untuk hidupmu tepat di saat ini juga. Kamu bebas menjadi apa saja. Tak ada yang selamanya, termasuk luka. 

Aku selalu berharap, kamu bisa percaya kalau langkahmu selanjutnya jauh lebih penting daripada kesalahanmu sebelumnya—baik kesalahan paling tua hingga yang masih segar getar getirnya. Aku tidak mau satu hari yang buruk atau satu keputusan keliru menyandera sisa usiamu. Karena bagiku, kamu adalah bambu (tiba-tiba).

Dengarkan dulu, aku janji ini tidak akan se-ngablu kedengarannya. 

Waktu SMP, seorang anak yang juara 1 di kelas membuat puisi untukku. Dia anak yang sedikit bermasalah dengan kata-kata, tapi suka sekali biologi dan eksakta. Aku senang sekali saat menerimanya, karena kupikir … dia pasti telah berjuang melewati keterbatasannya. Setelah kubuka perlahan, ternyata isinya adalah puisi tentang bambu dan manfaatnya. Dia bilang, aku ini bisa jadi pagar atau anyaman.

Aku bersumpah demi Tuhan. Ini bukan demi kepentingan plot twist. Bukan. 

Namun, sehabis itu, aku melihat bambu sebagai ungkapan kasih sayang yang sederhana dan menyenangkan. Karena baginya, aku serupa benda fisika yang tidak harus kuat dan kaku seperti batu. Namun kabar baiknya, itu berarti aku tidak akan mudah patah. Aku bisa menekuk, melenting, bahkan menari di tengah badai.

Dan saat dia menghargaiku seperti bambu, aku merasa dimaafkan untuk tidak pernah memiliki cincin pertumbuhan seperti pohon berkayu. Jika jati atau mahoni akan selalu mencatat setiap musim yang kejam dalam bentuk lingkaran tahun di dalam batang, bambu tidak kekurangan keistimewaan hanya karena tak bisa seperti itu.

Alih-alih membangun kayu padat yang menyimpan catatan rinci tentang hari-hari yang buruk, bambu memilih untuk membiarkan bagian dalamnya berongga. Kosong. Ringan. Seluruh energinya hanya ia habiskan untuk terus tumbuh memanjang ke atas, dan menghampar lebih banyak tunas untuk jadi kebun luas tanpa terbatas. 

Rongga kosong yang tidak memendam apa-apa itulah yang pada akhirnya membuat bambu sanggup menari saat badai datang, menciptakan bunyi gemerisik yang menenangkan. Bambu tidak memberi ruang bagi hari kemarin untuk menyandera pertumbuhannya hari ini.

Jadi, aku juga ingin panggil dirimu sebagai bambu. Karena aku berharap, tidak peduli seberapa keliru keputusan yang baru saja kamu buat, alipann akan selalu punya pilihan untuk membiarkan kesalahan itu mengalir jadi ruang kosong yang melegakan. 

Dan selayaknya rumpun bambu yang kadang terpotong paksa, beberapa kisah di hidup ini memang dibiarkan tak bersambung. Di tengah kehidupan yang sedang berjalan, setiap akhir cerita memang terasa berhenti di tengah-tengah. Karena kita memang tengah berjalan. Kita dipaksa berhenti dan memulai tunas baru lagi. Semua tak bisa dihindari. Jadi, kuharap, dirimu selalu diberikan keluasan untuk berdamai dengan titik yang menggantung itu

Jadilah hamparan rumpun bambu yang tidak pernah takut tumbuh dan memulai kembali, yang keluasannya membuat dirimu sendiri merasa bebas dan merdeka untuk menari ke sana ke mari. 

Oh iya, dari tadi kita sudah bercerita banyak sekali. Aku bersyukur kamu tidak keberatan menyimak banyak sekali omong soal bambu. Aku harap, setelah ini dirimu bisa mengobrol langsung dengan seseorang di meja-meja bahkan tidak pernah kamu lihat, di tempat yang tidak pernah kamu kunjungi. Aku berharap, seseorang mau mendengarkan isi pikiranmu sampai habis, sebagaimana yang kamu lakukan untukku sekarang.

Jangan khawatir, kamu pasti akan diterima. Kalau sedikit merasa aneh pun tidak apa, toh kamu memang manusia yang berbeda dari lainnya. alipann itu hanya ada satu-satunya di dunia ini, tidak ada yang lain, wajar kalau orang-orang yang menemuimu butuh waktu untuk belajar.

Dan karena kamu hanya ada satu-satunya di dunia, maka kamu jangan hilang. Tinggallah untuk waktu yang panjang sebelum benar-benar pulang. 


Comments