Posts

Kuli bulan ramadhan

  Bulan Ramadhan adalah bulan suci, segala jenis ibadah pun pahalanya dilipat gandakan. Tak terkecuali tidur juga bernilai ibadah. Namun, berat bagi seseorang dengan pekerjaannya sebagai kuli pasir, ia merasa keberatan jika harus bekerja dalam keadaan puasa. Padahal, pekerjaan tersebut adalah satu-satunya mata pencaharian nya. Bolehkah bagi seseorang yang berprofesi sebagai kuli pasir atau pekerjaan berat lainnya untuk tidak berpuasa di bulan ramadhan? Dan bagaimana batasan nya?  Jawaban    Bagi pekerja berat tidak diperbolehkan berbuka puasa, kecuali bila memenuhi 6 syarat; 1. Pekerjaan nya tidak bisa diundur hingga bulan syawal.  2. Ada halangan untuk dikerjakan di malam hari.  3. Pada umumnya, akan terjadi kesulitan bila menjalani puasa.  4.di malam hari tetap niat dan pagi hari tetap berpuasa. Baru setelah benar-benar tidak kuat diperbolehkan berbuka.  5. Saat berbuka diniati mencari keringanan hukum.  6.tidak boleh menyalahgunakan kering...

AGAR TIDAK MERASA LEBIH BAIK DARI ORANG LAIN

Seringkali kita menganggap diri kita lebih baik dari orang lain baik dari sisi keilmuan, ibadah atau bahkan merasa bahwa kita memiliki pahala yang lebih banyak dari orang lain.  Berikut tips-tips (cara) memandang orang lain agar terhindar dari perasaan sombong, ujub, dan merasa lebih baik, yang termuat dalam Kitab Syarh Rotibul Haddad : ( ﻓإﻥ رأيت ﺻﻐﻴﺮﺍ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ ﻟﻢ ﻳﻌﺺ ﺍﻟﻠﻪ ﻭأﻧﺎ ﻗﺪ ﻋﺼﻴﺖ ﻓﻼ ﺷﻚ أﻧﻪ ﺧﻴﺮ ﻣﻨﻲ ) Jika kamu melihat anak kecil, maka ucapkanlah dalam hatimu: "Anak ini belum bermaksiat kepada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepadaNya. Maka tidak diragukan lagi bahwa anak ini jauh lebih baik dariku."  ( ﻭإﻥ رأيت ﻛﺒﻴﺮﺍ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ ﻗﺪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺒﻠﻰ ﻓﻼ ﺷﻚ أﻧﻪ ﺧﻴﺮ ﻣﻨﻲ ) Jika kamu melihat orang tua, maka ucapkanlah dalam hatimu: "Dia telah beribadah kepada Allah jauh lebih lama dariku, maka tidak diragukan lagi bahwa dia lebih baik dariku."  ( ﻭإﻥ رأيت ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻗﻠﺖ : ﻫﺬﺍ قد أﻋﻄﻲ ما لم أعط وبلغ ما لم أبلغ وعلم ما جهلت فكيف أكون مثله ) Jika kamu melihat or...

menyikapi anggapan seseorang yang tidak mau bermazhab

ADA APA DENGAN MAZHAB ? S : Apakah boleh tidak bermazhab tapi dengan merujuk langsung kepada sumber agama ? J : Tidak ada kewajiban untuk bermazhab, dengan makna harus mengikuti Syafi'i, Hanafi, Hanbali atau Maliki. Hanya saja pernyataan tidak bermazhab itu harus diteliti kembali. Karena dalam prateknya hampir tidak ada orang yang tidak bermazhab. Jika dia mengikuti si fulan, berarti mazhabnya fulan. Atau minimal mazhabnya adalah akalnya sendiri. S : Apa yang seperti itu tidak boleh ? Kan sama sumbernya. J : Siapa bilang tidak boleh. Antara mengikuti ulama mazhab dengan mengikuti selain mereka mungkin memang sama, tapi besar kemungkinan justru tidak sama, apalagi bila yg kita ikuti mazhab pikiran diri kita sendiri. S : Apa bedanya ? J : Bedanya cuma sedikit. - Ulama mazhab itu sangat alim seperti paham bahasa Arab dengan segala uslubnya, sedangkan kita ? - Mereka hafal quran dan jutaan hadits, sedangkan kita hafal juz amma saja, dan beberapa biji hadits. - Mereka paham apa itu nas...

Cahaya Ilmu dalam Surah al-‘Alaq

Surah al-‘Alaq merupakan permulaan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad ﷺ. Saat itu beliau berusia empat puluh tahun, sedang menyendiri di Gua Hira, mengasingkan diri dari hiruk pikuk masyarakat Quraisy yang dipenuhi kemusyrikan. Dalam kesunyian itu, Malaikat Jibril datang membawa firman Allah yang pertama: “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq.” Perintah yang sederhana, namun menyimpan makna yang sangat dalam: bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Pilihan kata pertama dari wahyu ini menunjukkan bahwa Islam diletakkan di atas fondasi ilmu. Allah tidak memulai risalah-Nya dengan kewajiban shalat, zakat, atau jihad, melainkan dengan dorongan untuk membaca dan belajar. Ini menegaskan bahwa sebelum melangkah pada ibadah yang lain, manusia perlu terlebih dahulu memiliki ilmu yang benar. Tanpa ilmu, ibadah tidak akan sempurna; tanpa ilmu pula, kehidupan sosial tidak akan teratur dengan adil. Namun, perintah membaca tidak berhenti pada sekadar aktivitas intelektual. Allah menegaskan bahwa...

“Pasti Selesai: Rahasia Tenang Menghadapi Ujian”

  Kalau kita merenungi hidup, hampir tidak ada satu pun manusia yang lepas dari masalah. Ada yang diuji dengan ekonomi, ada yang diuji dengan keluarga, ada pula yang diuji dengan hati. Namun, tahukah kita, sejatinya masalah itu bukan hukuman, melainkan latihan jiwa. Allah menurunkan surat Al-Insyirah setelah surat Adh-Dhuha. Kenapa? Karena manusia kadang kalau dapat satu masalah, pikirannya gelap. Seakan-akan tidak ada cahaya, tidak ada jalan keluar. Padahal, Allah ingin mengingatkan: fa inna ma‘al ‘usri yusrā — sungguh, bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. Artinya: masalah bukan akhir, justru ia adalah tanda bahwa pertolongan Allah sedang menunggu. Mari kita lihat ke belakang. Berapa banyak masalah yang dulu pernah kita hadapi? Ada yang dulu kita kira berat sekali, tapi ternyata Allah sudah selesaikan semua itu. Maka yakinlah, kalau ribuan masalah yang lalu saja bisa selesai, yang sekarang pun pasti Allah beri jalan. Masalah itu ibarat ujian naik kelas. Kalau tidak ada ujian...

amalan agar kelak anak tidak berzina

Image
 amalan dari Imam al-Laqqani (penulis nadzham Jauharah at-Tauhid) agar anak kelak tidak berzina: Dan beliau رحمه الله adalah orang yang banyak manfaatnya. Diriwayatkan darinya banyak hal, di antaranya: bahwa siapa saja yang membacakan surat al-Qadr pada bayi yang baru lahir, sementara tangan orang yang membacakan itu berada di atas kepala si bayi pada malam kelahirannya, maka bayi itu tidak akan pernah berzina sepanjang hidupnya. Dan di antara tulisan tangannya juga terdapat (syair yang disebut) al-Munjiyāt (ayat-ayat penyelamat), yaitu: Yāsīn menyelamatkan dari asap (siksaan) dan (surat) al-Wāqi‘ah, Al-Mulk dan al-Insān adalah benar-benar pemberi syafa‘at. Kemudian al-Burūj baginya adalah kelapangan seperti ini, Tujuh (surat) itulah al-Munjiyāt yang bermanfaat. [📖مقدمة تحقيق الشيخ عبد السلام شنار على تحفة المريد شرح جوهرة التوحيد]

IKHTILAF DALAM BERMAZHAB

Makna khilaf dan ikhtilaf       Jadi makna Khilaf dan Ikhtilaf adalah: adanya perbedaan. Sebagian ulama berpendapat bahwa Khilaf dan Ikhtilaf mengandung makna yang sama.       Namun ada juga ulama yang membedakan antara Khilaf dan Ikhtilaf,            Ikhtilaf: perbedaan dengan dalil.  Khilaf: perbedaan tanpa dalil . Maka selalu kita mendengar orang mengatakan,“Ulama ikhtilaf dalam masalah ini" atau ungkapan“Ini adalah masalah Khilafiyyah”.           Maksudnya, bahwa para ulama tidak satu pendapat dalam masalah tersebut. Contoh Ikhtilaf Ulama Dalam Memahani Nash: Allah Swt berfirman:                                ومسحوا برءوسكم "Dan usaplah kepalamu" (Q.s al-maidah [5] )      Dalam hal ini para ulama' berbeda pendapat dalam memahami nash ° mazhab Hanafi        Wajib mengusap seperemp...