Kuli bulan ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan suci, segala jenis ibadah pun pahalanya dilipat gandakan. Tak terkecuali tidur juga bernilai ibadah. Namun, berat bagi seseorang dengan pekerjaannya sebagai kuli pasir, ia merasa keberatan jika harus bekerja dalam keadaan puasa. Padahal, pekerjaan tersebut adalah satu-satunya mata pencaharian nya. Bolehkah bagi seseorang yang berprofesi sebagai kuli pasir atau pekerjaan berat lainnya untuk tidak berpuasa di bulan ramadhan? Dan bagaimana batasan nya?
Jawaban
Bagi pekerja berat tidak diperbolehkan berbuka puasa, kecuali bila memenuhi 6 syarat;
1. Pekerjaan nya tidak bisa diundur hingga bulan syawal.
2. Ada halangan untuk dikerjakan di malam hari.
3. Pada umumnya, akan terjadi kesulitan bila menjalani puasa.
4.di malam hari tetap niat dan pagi hari tetap berpuasa. Baru setelah benar-benar tidak kuat diperbolehkan berbuka.
5. Saat berbuka diniati mencari keringanan hukum.
6.tidak boleh menyalahgunakan keringanan. Artinya, pekerjaan dijadikan tujuan agar dapat keringanan berbuka puasa.
Bila syarat syarat diatas tidak terpenuhi, maka berdosa baginya berbuka puasa meskipun diganti hari hari lain selain ramadhan.
Catatan ;
Kesulitan yang dimaksud adalah kesulitan yg sampai menyebabkan ia diperbolehkan tayamum atu menjalani sholat dengan duduk.
مَسْأَلَة: لَا يُجوز الْفِطْرُ لِنَحْوِ الْحُصَّادِ وَجُنَّاذِ النَّخْلِ وَالْحَرَّاثِ إِلَّا إِنِ اجْتَمَعَتْ فِيهِ الشَّرُوْطُ وَحَاصِلُهَا كَمَا يُعْلَمُ مِنْ كَلَامِهِمْ سِتَّةُ: أَنْ لَا يُمْكِنَ تَأْخِيرُ الْعَمَلِ إِلَى شَوَّالٍ، وَأَنْ يَتَعَذَّرَ الْعَمَلُ لَيْلًا، أَوْ لَمْ يُغْنِهِ ذَلِكَ فَيُؤَدِّي إِلَى تَلَفِهِ أَوْ نَقْصِهِ نَقْصًا لَا يُتَغَابَنُ بِهِ، وَأَنْ يَشُقَّ عَلَيْهِ الصَّوْمُ مَشَقَّةً لَا تُحْتَمَلُ عَادَةً بِأَنْ تُبِيحَ التَّيَمُّمَ أَوِ الْجُلُوسَ فِي الْفَرْضِ خِلَافًا لِابْنِ حَجَرٍ، وَأَنْ يَنْوِيَ لَيْلًا وَيُصْبِحُ صَائِمًا فَلَا يُفْطِرُ إِلَّا عِنْدَ وُجُودِ الْعُذْرِ وَأَنْ يَنْوِيَ التَّرَخَّصَ بِالْفِطْرِ لِيَمْتَازَ الْفِطْرُ الْمُبَاحُ عَنْ غَيْرِهِ، كَمَرِيْضٍ أَرَادَ الْفِطْرَ لِلْمَرَضِ فَلَابُدَّ أَنْيَنْوِي بِفِطْرِهِ الرُّخْصَةَ أيْضًا، وَأنْ لَا يَقْصِدَ ذَلِكَ الْعَمَل وَتَكْلِيفَ نَفْسِهِ لِمَحْضِ التَّرَخّص بالفطر وَإِلَّا امْتَنَعَ، كَمُسَافِرٍ قَصَدَ بِسَفَرِهِ مُجَرَّدَ الرُّخْصَةِ، حيث وُجِدَتْ هَذِهِ الشَّرُوْطُ أَبِيحَ الْفِطْرُ، سَوَاءً كَانَ لِنَفْسِهِ أَوْ لِغَيْرِهِ وَإِنْ لَمْ يَتَعَيَّنْ وَوُجِدَ غَيْرُهُ، وَإِنْ نُقِدَ شَرْطٌ أَثِمَ إِثْمًا عَظِيمًا وَوَجَبَ نَهْيُهُ وَتَعْزِيْرُهُ لِمَا وَرَدَ أَنَّ: مِنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ بِغَيْرِ عُذْرٍ لَمْ يُغْنِهِ عَنْهُ صَوْمُ الدَّهْرِ.
بغية المرتشدين
Comments
Post a Comment